Li Wei yang mendengar jawaban dari Jelita terdiam. Tiga tahun bersama seseorang seharusnya cukup untuk mengenal mereka dengan baik. Namun, jika Yun Qing sendiri masih merasa Lynx adalah misteri, maka seberapa dalam rahasia yang disimpan pemuda itu?

Perjalanan kembali ke Kota Louhang berlangsung dalam keheningan yang tenang. Langit mulai meredup, menandakan bahwa malam akan segera tiba. Para prajurit menjaga barisan mereka dengan lebih hati-hati, sesekali melirik Lynx dengan rasa hormat yang kini semakin dalam.

Di tengah perjalanan, Lynx mendekati Komandan Jiang yang berjalan di depan. "Paman Jiang," panggilnya dengan nada santai, namun ada sedikit keseriusan dalam suaranya.

Komandan Jiang menoleh, sedikit terkejut karena Lynx yang lebih dulu menyapanya. "Ada apa, Xiao Ling?"

Lynx menatap lurus ke depan sebelum bertanya, "Apakah Paman pernah mendengar tentang seseorang yang tiba-tiba muncul tanpa mengetahui apa pun tentang dunia ini? Atau mungkin ada yang pernah menyebut istilah ‘Penduduk Surya’?"

Komandan Jiang mengerutkan kening, berpikir keras. Setelah beberapa saat, ia akhirnya menggelengkan kepala. "Sejujurnya, aku tidak pernah mendengar hal seperti itu. Pendatang asing yang tidak tahu apa-apa tentang dunia ini... Kedengarannya aneh. Biasanya, meskipun seseorang berasal dari wilayah terpencil, mereka masih memiliki sedikit pemahaman tentang dunia luar."

Lynx sedikit kecewa, tapi ia sudah menduga jawaban itu.

Komandan Jiang menatapnya dengan penasaran. "Kenapa kau mencari mereka, Xiao Ling? Apakah ada hubungannya denganmu?"

Lynx terdiam sesaat sebelum menjawab dengan suara tenang, "Mereka adalah kerabatku. Jumlah mereka ada ribuan orang."

Komandan Jiang dan Li Wei yang berjalan di dekat mereka langsung terkejut mendengar angka tersebut.

"Ribuan orang?" Li Wei berseru pelan, berusaha memahami situasinya. "Bagaimana mungkin ada ribuan orang yang tiba-tiba muncul tanpa tahu apa-apa?"

Lynx menggeleng pelan. "Aku tidak bisa menjelaskan alasannya sekarang, tapi aku ingin meminta bantuan kalian. Jika kalian menemukan petunjuk tentang mereka, aku berharap kalian bersedia memberi tahu aku."

Komandan Jiang mengangguk dengan mantap. "Tentu saja. Jika aku mendengar sesuatu, aku pasti akan segera menghubungimu."

Li Wei yang sejak tadi diam, akhirnya ikut berbicara. "Aku juga akan mencari informasi. Kalau ada pendatang aneh seperti itu, pasti akan ada desas-desus di berbagai tempat."

Lynx mengangguk, sedikit lega. "Terima kasih."

Jelita yang mendengar percakapan mereka dari belakang, hanya diam, berharap bisa menemukan keluarganya.

"Xiao Lynx, di mana kamu akan tinggal selama di kota ini? Apakah kamu memiliki kenalan di sini?" tanya Li Wei dengan rasa penasaran yang jelas terlihat di wajahnya.

Lynx menggelengkan kepala. "Ini pertama kalinya kami ke sini, jadi kami belum tahu mau ke mana. Tapi kami ingin menikmati kota ini," kata Lynx sambil tersenyum lebar.

"Kalau aku tidak sedang buru-buru untuk memberikan bunga ini kepada kakakku untuk pengobatannya, pasti akan aku antar kalian keliling kota. Banyak tempat bagus di sini," jawab Li Wei dengan semangat yang membara.

"Terima kasih, Li Wei. Kamu harus prioritaskan kakakmu terlebih dahulu," kata Jelita sambil memegang lembut tangan Li Wei, memberikan dukungan yang tulus.

"Yun Qing, karena ini adalah kunjungan pertamamu ke tempat ini, aku akan merekomendasikan beberapa tempat makan yang enak. Ada dua tempat makan terkenal di sini. Dekat gapura masuk, ada Paviliun Seribu Rasa. Kamu bisa melihatnya dengan mudah; itu adalah rumah makan terbesar di dekat gapura. Dan di tengah kota, terdapat rumah makan yang lebih besar lagi, bernama Paviliun Api Emas. Kamu harus mencobanya bersama Xiao Ling," lanjut Li Wei dengan antusias, menjelaskan berbagai tempat menarik yang bisa mereka kunjungi sepanjang perjalanan.

Perjalanan berlanjut, dengan pemikiran masing-masing di benak mereka. Kota Louhang masih jauh, dan petualangan mereka baru saja dimulai.

***

Sesampainya di gerbang kota, Komandan Jiang mendekati Lynx dan menyerahkan tanda pengenalnya. "Ini, gunakan ini. Dengan ini, kau tidak akan diganggu siapa pun di kota ini. Jika kau ingin menemuiku, datanglah ke rumah walikota."

Lynx menerima tanda itu dengan anggukan.

"Yun Qing, kamu harus mengunjungiku ya bersama Xiao Lynx. Aku ingin bertemu kalian lagi sebelum aku kembali ke Sekte Api Langit," kata Li Wei dengan penuh harap, matanya menatap Lynx dengan sorot yang penuh keinginan. Selama perjalanan, dia semakin mengagumi karakter Lynx. Meskipun memiliki kekuatan besar, Lynx tidak menunjukkan sedikitpun kesombongan.

Komandan Jiang, yang memperhatikan ekspresi Li Wei, menghembuskan napas panjang. Dia sangat mengenali watak Li Wei karena mereka selalu bersama sejak kecil. Dan Xiao Ling, satu-satunya pria yang mampu membuatnya terkesan.

Mendengar kata-kata Li Wei, Xiao Ling tersenyum. "Kami akan mampir ke sana saat ada kesempatan."

Wajah Li Wei berubah drastis, senang saat mendengarnya. "Janji ya. Aku akan sangat menantikan kehadiranmu," katanya dengan senyum malu-malu, jantungnya berdebar penuh harapan.

"Li Wei, kapan kamu akan kembali ke sekte?" tanya Jelita, suaranya lembut namun penuh rasa ingin tahu.

"Mungkin beberapa hari lagi. Aku hanya dapat izin satu tahun meninggalkan sekte. Kakak seperguruanku seharusnya sudah berangkat kemari untuk menjemput," jawab Li Wei, menatap jauh seolah membayangkan pertemuan itu.

"Baiklah, Li Wei. Kami akan segera kesana untuk menemuimu, ya kan, Xiao Ling?" tanya Jelita, untuk meminta persetujuan Lynx.

Lynx tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia berpikir mungkin itu juga kesempatan dia untuk bisa mengenal walikota.

Li Wei kemudian mengeluarkan sebuah kantung dari cincin penyimpanannya. "Xiao Ling, kebetulan aku tidak membawa banyak. Ini tidak seberapa sebagai tanda terima kasih kami karena sudah ditolong. Kuharap kamu mau menerimanya sebagai ungkapan rasa syukur kami, dan tidak menolaknya," ujarnya dengan tulus, wajahnya menunjukkan harapan agar Xiao Ling menerima pemberiannya.

Lynx melihat wajah tulus Li Wei, dan Komandan Jiang juga menganggukkan kepala sebagai bentuk dukungan. Lynx segera menerima kantung yang diberikan dan menyimpannya di cincin penyimpanannya tanpa memeriksanya lebih lanjut. "Terima kasih juga, Li Wei dan Paman Jiang. Sampai bertemu lagi," ucapnya sambil tersenyum, merasakan kehangatan hubungan yang terjalin di antara mereka.

Setelah perpisahan singkat, ia dan Jelita melihat rumah makan seperti yang di ceritakan oleh Li Wei. "Xiao Ling, bukankah itu rumah makan yang dimaksudkan Li Wei. Apakah kita bisa kesana? Aku sangat ingin merasakan masakan lain dunia ini." Kata Jelita dengan nada berharap.

Lynx tersenyum, segera dia menarik tangan Jelita dan menuju ke arah rumah makan. Saat mereka berjalan menuju rumah makan tersebut, aroma makanan yang menggoda membuat perut mereka berbunyi pelan. Jelita tertawa. "Ayo cepat! Aku sudah tidak tahan lagi!"

Lynx tersenyum tipis. "Aku juga. Mari kita makan."

Saat Lynx dan Jelita memasuki rumah makan, aroma harum dari berbagai hidangan khas Kota Louhang segera menyambut mereka. Rumah makan ini dikenal sebagai Paviliun Seribu Rasa, salah satu tempat makan terkenal di kota ini. Meski terkenal, tempat ini masih berada di bawah Paviliun Api Emas, yang lebih mewah dan melayani banyak kalangan atas.

Paviliun Seribu Rasa memiliki tiga tingkatan ruangan. Lantai pertama merupakan ruang makan biasa dengan harga standar dan menu yang lebih umum. Lantai dua menawarkan hidangan premium dengan harga lebih mahal dan suasana lebih privat. Sementara lantai tiga adalah tempat paling eksklusif, dengan hidangan langka dan harga selangit yang hanya bisa dinikmati oleh orang-orang kaya dan terpandang.

Lynx tidak ingin menarik perhatian, sehingga ia dan Jelita memilih duduk di lantai satu. Mereka memilih meja di sudut yang agak tenang. Seorang pelayan segera menghampiri dan memberikan daftar menu.

"Xiao Ling, lihat ini!" Jelita berseru dengan mata berbinar. "Ada 'Sup Ekor Naga Berapi', 'Bebek Kristal Seribu Rasa', dan 'Iga Harimau Api'. Semua kelihatannya lezat!"

Lynx tersenyum. "Pesan saja sesukamu. Aku juga ingin tahu rasanya."

Pelayan pria yang mencatat pesanan mereka sempat terkejut dengan makanan yang dipesan dengan harga yang sangat mahal dan banyak jenisnya. Tatapannya menyapu pakaian Lynx dan Jelita, yang terlihat biasa saja.
